Langsung ke konten utama

Simpan Fotomu! Fotomu Bukan untuk Konsumsi Publik!


Bismillahirrahmanirrahim
Jadi beberapa hari yang lalu ada diskusi dengan bahasan menarik, Mengapa perempuan bercadar dan berkerudung lebar jaman now sangat sering upload foto di sosial media dan dibumbui caption dakwah? Mengapa lelaki jaman now juga sangat jago upload wajah di sosial media dengan dibumbui caption dakwah?

Saya disini bukan untuk ngejudge siapapun, hanya ingin berbagi pandangan sebagai perempuan yang kadang suka risih sama upload foto dengan caption dakwah dan bermodus "ini adalah ladang dakwah."

Jadi sebelum Saya nulis tulisan ini, Saya pernah ada diposisi si perempuan itu, iyaa pernah dan sering upload foto bahkan sering jadiin foto diri sendiri untuk dipasang di foto profil akun sosial media. Jadi disini, Saya juga coba menghakimi diri Saya di masa lalu, bukan hanya menghakimi mereka yang sekarang sering upload foto wajah di sosial media yaa.

Ini kasus Saya, yang real Saya alami sendiri dan sekarang bikin sadar untuk tau lagi makna apa yang harus di upload di sosial media yang pesertanya gak cuma temen kita, tapi bahkan orang yang gak kita kenal sama sekali.

Saya dulu lumayan pernah upload foto di sosial media, yaaa lampau banget dah, lalu temen Saya chat (temen laki-laki).
"Saya screenshoot foto yang kamu upload dan saya sekarang lagi kasih tau kamu kalo saya screenshoot foto kamu." pikir Saya saat itu, yaa apandeh cuma screenshoot foto aja lebay pake kasih tau.

Dan ada lanjutan chatnya "coba kamu pikir deh, sekarang saya screenshoot dan saya save di hape, kalo misalkan ada yang ngelakuin hal yang sama dengan apa yang saya lakuin sekarang. Kamu gak risih gitu?"

Disaat itu saya males menanggapi dia yang sedang berdalih bahwa, "yaa gausa upload wajah disini (sosial media) gak ada guna" karena yang saya pikirkan hanya tentang kesukaan saja dengan foto yang indah. Dengan perdebatan yang cukup panjang dikarenakan hanya sebuah FOTO, dia pun mengalah dan membiarkan saya menang begitu aja. Karena menurut dia, orang yang sedang merasa benar kalo dikasih suatu kebenaran dia tidak akan bisa menerima, karena dikeadaan seperti itu dia menjadi orang yang egois. Dan semenjak kejadian ini saya pun enggak pernah lagi memikirkan apapun tentang dampak dari posting foto.

Kebiasaan seseorang adalah ia selalu melakukan hal yang sama setiap kali hingga ia bosan. Itu saya lakuin di foto profil akun sosial media saya (Line, WhatsApp, Instagram, Blog, dll), selalu berganti foto profil dengan wajah. Dan itu menurut saya sih hal yang wajar, setiap orang pun melakukannya. Jadi, yaa kalo ada yang melakukan sesuatu menurut saya gak salah, yaa tetep saya lakuin.

Dengan kasus yang berbeda, kali ini saya ganti foto profil akun, karena kalo di akun Line setiap kita ganti foto profil akan muncul di kotak dialog "Recently Updated Profiles" dan temen saya tau kalo saya ganti foto profil (orang yang sama) dia pun bahas lagi masalah yang udah lama enggak pernah kita bahas. Yaitu tentang FOTO DI SOSIAL MEDIA. Kesel dan enggak ngenakin banget, pembahasan yang sama dengan perdebatan yang sama dan hasilnya pun sama; saya enggak mau nerima kalo itu ada dampak negatifnya. Dia selalu bilang kalo ada yang namanya penyakit 'ain, yang menurut saya sih enggak wajar sama sekali. Cuma karena posting foto, kamu bakalan kena penyakit, yekan?

Okee, singkat cerita saya cari tau lah tentang apasih emang dampak posting foto dengan wajah? Sejauh ini, yaaa saya aman-aman aja, enggak ada masalah, enggak merasa kena penyakit 'ain. Tetapi karena ada rasa penasaran, saya cari apa yang dia maksud. Hingga saya nemu banyak tulisan yang berhubungan dengan apa itu penyakit 'ain dan apa aja dampak buruk dari posting wajah di sosial media.

‘Ain adalah pengaruh pandangan hasad (dengki) dari orang yang dengki sehingga bisa membahayakan orang yang dipandang. Misalnya saja anak kecil yang dipandang dengan penuh dengki, maka ia bisa jatuh sakit atau terus-terusan menangis. Selain dari penglihatan, hasad ternyata bisa terjadi melalui gambar atau hanya sekedar khayalan.
Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad (4: 153) berkata,
ونفس العائن لا يتوقف تأثيرها على الرؤية ، بل قد يكون أعمى فيوصف له الشيء فتؤثر نفسه فيه وإن لم يره ، وكثير من العائنين يؤثر في المعين بالوصف من غير رؤية
“’Ain bukan hanya lewat jalan melihat. Bahkan orang buta sekali pun bisa membayangkan sesuatu lalu ia bisa memberikan pengaruh ‘ain meskipun ia tidak melihat. Banyak kasus yang terjadi yang menunjukkan bahwa ‘ain bisa menimpa seseorang hanya lewat khayalan tanpa melihat.”
Syaikh Sholih Al Munajjid berkata, “Dari sini terlihat bahwa ‘ain bisa ditimbulkan dengan melihat pada gambar seseorang secara langsung atau melihatnya di TV. Bahkan bisa hanya dengan mendengar, lalu dikhayalkan dan terkenalah ‘ain. Kita memohon pada Allah keselamatan.”[1]
Sejak saat itu saya sadar, kalo enggak semua yang dilakuin orang kebanyakan itu selalu benar. Terkadang kita sulit menerima kebaikan bukan karena kita tidak diberitahu tentang kebaikan, tetapi diri kita sendiri lah yang sedang menutupnya.

Lalu bagaimana dengan para perempuan bercadar maupun yang tidak dan dengan para lelaki yang selalu posting foto?
Beberapa hari lalu saya pun mendapat postingan yang isinya bisa kita cerna bareng-bareng dan bisa kita ambil pelajaran didalamnya.

[ DOSA JARIYAH WANITA ]
Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu (jika sengaja pamer kecantikan/keindahan tubuh dan tampil menggoda) semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
Semakin sang lelaki mengkhayalkanmu, semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak
Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari apalagi keelokan tubuhmu
Bayangkanlah, betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan bahkan jutaan para lelaki
Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu, maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah
Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat
Dan di akhirat kelak bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam!Wallahu A’lam Bishawab
Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrussalam Hafidzahullahu ta’ala

Pada postingan Instagram @yezerkiarfatihzarlis [2]

Mungkin kita para perempuan tak pernah menyangka akan seperti ini, tapi inilah nyatanya apa yang para lelaki fikirkan tentang foto cantikmu disosial media, tentang cadarmu, tentang kerudung lebarmu dan tentang indahnya paduan dakwah dengan fotomu. Intinya, perempuan memang fitrahnya sebagai fitnah dunia dan ujian bagi para lelaki, tetapi kita masih bisa memilih, mau jadi Baik atau Buruk. Ingat ya, wajah kita bukan konsumsi publik, dear[3]

Yaaaa ini catatan untuk para perempuan. Lalu bagaimana untuk para lelaki yang masih selalu posting fotonya?

Ingat aja tentang gadhul bashar, gadhul bashar sekarang tak hanya berlaku untuk para lelaki saja, tetapi untuk perempuan juga. Kami pun butuh menjaga pandangan kami agar kalian tak menjadi fitnah bagi kami. Nahh ini kadangan lelaki suka lupa, bahwa mata kami pun perlu dijaga, kadangan perempuan suka khilaf komen-komen yang enggak pantes pas ngeliat lelaki pada posting foto. Ada yang pernah bilang, jika ada seorang lelaki yang sangat jago posting fotonya bisa jadi dia sangat tak jago menjaga pandangan didunia maya.

Sebenernya, boleh gak sih kita foto? Boleh kokk, tapi jangan di posting. Unfaedah banget tau gak, apalagi dicampur bumbu-bumbu dakwah yang indah. Terus kalo mau dakwah di sosial media gimana? yaa boleh lah, masaa berbuat kebaikan enggak boleh, kan enggak mesti pake posting foto wajah kita , yekaann?

Gunakanlah secara bijak sosial mediamu, fitnah terbesar sekarang tak hanya wanita, namun sosial media. Ia menghantarkanmu untuk tergiur dengan hal yang kadangan kita anggap wajar dan benar tetapi malah justru mengantarkan kepada dosa jariyah. Tahanlah jarimu untuk tak mengklik tombol posting namun berupa foto wajahmu, memang sulit, tapi jika kau berfikir itu akan menambah dosamu, coba kau fikirkan kembali.

Simpen aja FOTO mu di galeri hapemu, jangan kau posting di sosial media. Sebab FOTO mu bukan konsumsi publik.

Terima kasih untuk para pembaca yang sudah mau mkamuangkan waktunya untuk membaca tulisan yang receh ini. Semoga saja apa yang saya tulis bisa memberikan sedikit pencerahan untuk yang sering posting foto. Dan untuk yang udah enggak pernah posting foto di sosial media, teteplah istiqomah, menjaga yang sudah terjaga itu kewajiban.

Bagi yang ingin menanggapi ataupun memberikan saran, silahkan komen dikolom komentar. InsyaAllah saya menerima saran dari kalian semua.


Semoga kita semua selalu diberikan hidayahNya.
Jazakumullah khairan.


Referensi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian 1 : Pertemuan

Bagian-1 Siang ini, aku sengaja mendatangi tempat makan yang tak jauh dari kantorku. Hari ini aku malas untuk makan ditempat biasa, tempat yang sangat jauh dari kantor. Jadi ku pilih tempat yang jaraknya hanya 10 meter dari kantorku. Seperti biasa, selalu kubawa barang unik milikku, sebut saja laptop. Mengapa unik? karena dia selalu bersamaku setiap saat. Mungkin terlihat seperti laptop kebanyakan, hanya saja ini laptop punya sejuta cerita didalamnya. Semua kisah cerita hidup kutulis disini, setiap memori keadaan selalu kuabadikan dalam foto dan kusimpan didalamnya. Bukankah unik? Tak ada yang isimewa siang ini, seperti biasa hanya makan disambi untuk mengerjakan sebagian pekerjaan kantor yang menurutku agak sedikit membosankan. Tiba-tiba kulihat sekumpulan mahasiswi (sepertinya) sedang makan bersama dibagian ujung ruangan ini. Sekilas mereka sama seperti pengunjung lain, hanya untuk makan dan sedikit berbagi cerita dengan teman lainnya. Disini tmapt makan yang lumayan luas, m...