Bismillahirrahmanirrahim
Jadi beberapa hari yang
lalu ada diskusi dengan bahasan menarik, Mengapa
perempuan bercadar dan berkerudung lebar jaman now sangat sering upload foto di sosial media dan dibumbui caption dakwah? Mengapa lelaki jaman now juga sangat jago upload wajah di
sosial media dengan dibumbui caption
dakwah?
Saya disini bukan untuk
ngejudge siapapun, hanya ingin berbagi pandangan sebagai perempuan yang kadang
suka risih sama upload foto dengan caption dakwah dan bermodus "ini adalah
ladang dakwah."
Jadi sebelum Saya nulis
tulisan ini, Saya pernah ada diposisi si perempuan itu, iyaa pernah dan sering
upload foto bahkan sering jadiin foto diri sendiri untuk dipasang di foto
profil akun sosial media. Jadi disini, Saya juga coba menghakimi diri Saya di
masa lalu, bukan hanya menghakimi mereka yang sekarang sering upload foto wajah
di sosial media yaa.
Ini kasus Saya, yang real Saya alami sendiri dan sekarang
bikin sadar untuk tau lagi makna apa yang harus di upload di sosial media yang
pesertanya gak cuma temen kita, tapi bahkan orang yang gak kita kenal sama
sekali.
Saya dulu lumayan pernah
upload foto di sosial media, yaaa lampau banget dah, lalu temen Saya chat
(temen laki-laki).
"Saya screenshoot
foto yang kamu upload dan saya sekarang lagi kasih tau kamu kalo saya
screenshoot foto kamu." pikir Saya saat itu, yaa apandeh cuma screenshoot
foto aja lebay pake kasih tau.
Dan ada lanjutan chatnya
"coba kamu pikir deh, sekarang saya screenshoot
dan saya save di hape, kalo misalkan
ada yang ngelakuin hal yang sama dengan apa yang saya lakuin sekarang. Kamu gak
risih gitu?"
Disaat itu saya males
menanggapi dia yang sedang berdalih bahwa, "yaa gausa upload wajah disini
(sosial media) gak ada guna" karena yang saya pikirkan hanya tentang
kesukaan saja dengan foto yang indah. Dengan perdebatan yang cukup panjang
dikarenakan hanya sebuah FOTO, dia
pun mengalah dan membiarkan saya menang begitu aja. Karena menurut dia, orang
yang sedang merasa benar kalo dikasih suatu kebenaran dia tidak akan bisa
menerima, karena dikeadaan seperti itu dia menjadi orang yang egois. Dan
semenjak kejadian ini saya pun enggak pernah lagi memikirkan apapun tentang
dampak dari posting foto.
Kebiasaan seseorang
adalah ia selalu melakukan hal yang sama setiap kali hingga ia bosan. Itu saya
lakuin di foto profil akun sosial media saya (Line, WhatsApp, Instagram, Blog,
dll), selalu berganti foto profil dengan wajah. Dan itu menurut saya sih hal
yang wajar, setiap orang pun melakukannya. Jadi, yaa kalo ada yang melakukan
sesuatu menurut saya gak salah, yaa tetep saya lakuin.
Dengan kasus yang
berbeda, kali ini saya ganti foto profil akun, karena kalo di akun Line setiap
kita ganti foto profil akan muncul di kotak dialog "Recently Updated Profiles" dan temen saya tau kalo saya ganti
foto profil (orang yang sama) dia pun bahas lagi masalah yang udah lama enggak
pernah kita bahas. Yaitu tentang FOTO DI
SOSIAL MEDIA. Kesel dan enggak ngenakin banget, pembahasan yang sama dengan
perdebatan yang sama dan hasilnya pun sama; saya enggak mau nerima kalo itu ada
dampak negatifnya. Dia selalu bilang kalo ada yang namanya penyakit 'ain, yang
menurut saya sih enggak wajar sama sekali. Cuma karena posting foto, kamu
bakalan kena penyakit, yekan?
Okee, singkat cerita saya
cari tau lah tentang apasih emang dampak
posting foto dengan wajah? Sejauh ini, yaaa saya aman-aman aja, enggak ada
masalah, enggak merasa kena penyakit 'ain. Tetapi karena ada rasa penasaran, saya
cari apa yang dia maksud. Hingga saya nemu banyak tulisan yang berhubungan
dengan apa itu penyakit 'ain dan apa aja dampak buruk dari posting wajah di
sosial media.
‘Ain adalah pengaruh
pandangan hasad (dengki) dari orang yang dengki sehingga bisa membahayakan
orang yang dipandang. Misalnya saja anak kecil yang dipandang dengan penuh
dengki, maka ia bisa jatuh sakit atau terus-terusan menangis. Selain dari
penglihatan, hasad ternyata bisa terjadi melalui gambar atau hanya sekedar
khayalan.
Ibnul Qayyim
dalam Zaadul Ma’ad (4: 153) berkata,
ونفس العائن لا يتوقف تأثيرها على الرؤية ، بل
قد يكون أعمى فيوصف له الشيء فتؤثر نفسه فيه وإن لم يره ، وكثير من العائنين يؤثر
في المعين بالوصف من غير رؤية
“’Ain bukan hanya lewat
jalan melihat. Bahkan orang buta sekali pun bisa membayangkan sesuatu lalu ia
bisa memberikan pengaruh ‘ain meskipun ia tidak melihat. Banyak kasus yang
terjadi yang menunjukkan bahwa ‘ain bisa menimpa seseorang hanya lewat khayalan
tanpa melihat.”
Syaikh Sholih Al
Munajjid berkata, “Dari sini terlihat bahwa ‘ain bisa ditimbulkan dengan
melihat pada gambar seseorang secara langsung atau melihatnya di TV. Bahkan
bisa hanya dengan mendengar, lalu dikhayalkan dan terkenalah ‘ain. Kita memohon
pada Allah keselamatan.”[1]
Sejak saat itu saya sadar, kalo enggak semua
yang dilakuin orang kebanyakan itu selalu benar. Terkadang kita sulit
menerima kebaikan bukan karena kita tidak diberitahu tentang kebaikan, tetapi
diri kita sendiri lah yang sedang menutupnya.
Lalu bagaimana dengan para perempuan bercadar
maupun yang tidak dan dengan para lelaki yang selalu posting foto?
Beberapa hari lalu saya pun mendapat postingan
yang isinya bisa kita cerna bareng-bareng dan bisa kita ambil pelajaran
didalamnya.
[ DOSA JARIYAH WANITA ]
Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu (jika sengaja pamer kecantikan/keindahan tubuh dan tampil menggoda) semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
Semakin sang lelaki mengkhayalkanmu, semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak
Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari apalagi keelokan tubuhmu
Bayangkanlah, betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan bahkan jutaan para lelaki
Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu, maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah
Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat
Dan di akhirat kelak bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam!Wallahu A’lam Bishawab
Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrussalam Hafidzahullahu ta’ala
Pada postingan Instagram @yezerkiarfatihzarlis [2]
Mungkin
kita para perempuan tak pernah menyangka akan seperti ini, tapi inilah nyatanya
apa yang para lelaki fikirkan tentang foto cantikmu disosial media, tentang
cadarmu, tentang kerudung lebarmu dan tentang indahnya paduan dakwah dengan
fotomu. Intinya, perempuan memang fitrahnya sebagai fitnah dunia dan ujian bagi
para lelaki, tetapi kita masih bisa memilih, mau jadi Baik atau Buruk. Ingat ya, wajah kita bukan konsumsi
publik, dear. [3]
Yaaaa ini catatan untuk
para perempuan. Lalu bagaimana untuk para lelaki yang masih selalu posting
fotonya?
Ingat aja tentang gadhul
bashar, gadhul bashar sekarang tak hanya berlaku untuk para lelaki saja,
tetapi untuk perempuan juga. Kami pun butuh menjaga pandangan kami agar kalian
tak menjadi fitnah bagi kami. Nahh ini kadangan lelaki suka lupa, bahwa mata
kami pun perlu dijaga, kadangan perempuan suka khilaf komen-komen yang enggak
pantes pas ngeliat lelaki pada posting foto. Ada yang pernah bilang, jika
ada seorang lelaki yang sangat jago posting fotonya bisa jadi dia sangat tak
jago menjaga pandangan didunia maya.
Sebenernya, boleh gak sih
kita foto? Boleh kokk, tapi jangan di posting. Unfaedah banget tau gak, apalagi dicampur bumbu-bumbu dakwah yang
indah. Terus kalo mau dakwah di sosial media gimana? yaa boleh lah, masaa
berbuat kebaikan enggak boleh, kan enggak mesti pake posting foto wajah kita ,
yekaann?
Gunakanlah secara bijak
sosial mediamu, fitnah terbesar sekarang tak hanya wanita, namun sosial media.
Ia menghantarkanmu untuk tergiur dengan hal yang kadangan kita anggap wajar
dan benar tetapi malah justru mengantarkan kepada dosa jariyah. Tahanlah
jarimu untuk tak mengklik tombol
posting namun berupa foto wajahmu, memang sulit, tapi jika kau berfikir itu
akan menambah dosamu, coba kau fikirkan kembali.
Simpen aja FOTO mu di galeri hapemu, jangan kau posting di sosial media. Sebab FOTO mu bukan konsumsi publik.
Terima kasih untuk para
pembaca yang sudah mau mkamuangkan waktunya untuk membaca tulisan yang receh
ini. Semoga saja apa yang saya tulis bisa memberikan sedikit pencerahan untuk
yang sering posting foto. Dan untuk yang udah enggak pernah posting foto di
sosial media, teteplah istiqomah, menjaga yang sudah terjaga itu kewajiban.
Bagi yang ingin
menanggapi ataupun memberikan saran, silahkan komen dikolom komentar.
InsyaAllah saya menerima saran dari kalian semua.
Semoga kita semua selalu diberikan hidayahNya.
Jazakumullah khairan.
Semoga kita semua selalu diberikan hidayahNya.
Jazakumullah khairan.
Referensi
[2] http://instagram.com/yezerkiarfatihzarlis
[3] https://rumaysho.com/11199-maaf-istriku-bukan-jadi-konsumsi-umum.html
[3] https://rumaysho.com/11199-maaf-istriku-bukan-jadi-konsumsi-umum.html
Komentar
Posting Komentar