Langsung ke konten utama

Bagian 1 : Pertemuan

Bagian-1

Siang ini, aku sengaja mendatangi tempat makan yang tak jauh dari kantorku. Hari ini aku malas untuk makan ditempat biasa, tempat yang sangat jauh dari kantor. Jadi ku pilih tempat yang jaraknya hanya 10 meter dari kantorku. Seperti biasa, selalu kubawa barang unik milikku, sebut saja laptop. Mengapa unik? karena dia selalu bersamaku setiap saat. Mungkin terlihat seperti laptop kebanyakan, hanya saja ini laptop punya sejuta cerita didalamnya. Semua kisah cerita hidup kutulis disini, setiap memori keadaan selalu kuabadikan dalam foto dan kusimpan didalamnya. Bukankah unik?

Tak ada yang isimewa siang ini, seperti biasa hanya makan disambi untuk mengerjakan sebagian pekerjaan kantor yang menurutku agak sedikit membosankan. Tiba-tiba kulihat sekumpulan mahasiswi (sepertinya) sedang makan bersama dibagian ujung ruangan ini. Sekilas mereka sama seperti pengunjung lain, hanya untuk makan dan sedikit berbagi cerita dengan teman lainnya. Disini tmapt makan yang lumayan luas, memang tak terlalu terkenal tapi ada Wi-Fi yang dipasang pemilik rumah makan. Jadi, ya banyak mahasiswa yang memilih tempat makan ini, walaupun semua tahu, tempat ini jauh dari kampus unggulan dikota ini. Ada juga pasangan kekasih (mungkin) yang sedang makan bersama, entahlah mengapa mereka memilih tempat ini, mungkin seru pikirnya. Ada juga yang sedang mengantri menunggu makanannya dibungkus untuk dimakan dirumahnya atau bisa jadi itu titipan orang lain. Sangat banyak pengunjung hari ini, bahkan memenuhi seisi ruangan ini.

Aku masih sibuk dengan keyboard yang sedang kuketik, tak peduli suara tawa mereka atau suara piring beradu yang sedang dicuci oleh pegawainya. Satu per satu sendok makan mulai kucoba kunyah, hingga sampai di suapan sendok  terakhir tapi pekerjaanku masih pula belum usai. Kucoba rehatkan sejenak jemariku dari laptop ini, ku istirahatkan penglihatanku dari monitor layar yang memedihkan mata.

Mataku seperti mencari-cari objek, apa yang bisa kulihat, sepertinya tak ada. Tak ada yang istimewa selain memanggil pegawai untuk membuatkan secangkir kopi tambahan untukku. Yaa, aku memesan secangkir capucino latte yang menurutku sangat cocok untuk siang hari ini.

Tak sengaja, aku melihat seseorang diujung sana. Ada seorang perempuan sekitar umur 22 tahun sedang tertawa renyah bersama temannya. Duduk melingkar entah membicarakan apa, dilihat dari matanya, dia sangat senang sekali. Lihatlah, matanya menunjukkan dia sedang tersenyum bahagia. Dari banyak temannya yang ada, dia yang paling bersemangat bercerita. Sedang teman yang lain dengan asyik mendengarkan ceritanya. Sepertinya dia yang memimpin kelompok itu (atau bisa dibilang ketua geng). Mereka adalah segerombolan mahasiswi yang datang tadi, mungkin ingin mencari Wi-Fi, bukan? Obrolan seru mereka seperti orang yang tak pernah ketemu sebelumnya, yaa seperti macam reuni-an lah.

Pakaian perempuan itu pun berbeda dari yang lain, dia sendiri yang mengenakan penutup wajah atau kau bisa sebut itu cadar. Terlihat sederhana, hanya menggunakan kerudung lebar yang menutupi hampir seluruh badannya. Sedang yang lain hanya mengenakan kerudung ukuran biasa, ada juga yang hampir sejenisnya, sedikit lebar tapi tetap lebar-an perempuan bercadar itu. Terlihat anggun memang tapi agak sedikit menyeramkan (bagi yang tak mengerti), hanya matanya yang terlihat. Iya, keningnya pun tak terlihat. Tapi aku tidak terlalu menganggap itu menyeramkan, malah terlihat angggun sekali. Cepat-cepat ku hindari pandanganku dari wanita itu. Ah Astaghfirullah. Jarang dikantorku ada karyawati yang mengenakan cadar, menggunakan kerudung pun hanya bisa dihitung pakai jari. Ya kantorku, memang termasuk kantor swasta asing, milik perusahaan asing, termasuk sedikit kapitalisme sih.

Ah kulupa, pekerjaanku belum selesai, sambil meminum sedikit kopi yang sudah kupesan, kucoba untuk menyelesaikan tugas kantorku. Hampir dikit lagi selesai, tapi hampir sedikit pula waktu istirahatku habis. Harus buru-buru nih, maklum deadline nya entar sore. 10 menit berlalu, kusudahi mengerjakan tugasku, kurapihkan semua perlengkapan yang kubawa tadi. Kuputuskan istirahat 5 menit saja,  sebelum kembali kekantor. Sambil kuhabiskan kopi yang kupesan tadi. Eh ternyata anak-segerombolan mahasiswi tadi masih ada diujung ruangan ini. Masih asyik aja, pikirku. Setelah habis minumku tapi ku masih ingin rehat disini sebentar, pikirku. Ternyata mereka lebih dulu pulang. Tunggu. Tapi tidak semua pulang. Perempuan yang kumaksud tadi masih tetap disana. Oh, mungkin saja dia sedang menunggu orang lain. Mungkin.


Bersambung ke
Bagian 2 : Aku adalah

.....
Assalamualaikum. Ini ada sedikit cerita bersambung yang sedang diproses, cerita ini hanya fiktif belaka, tapi sedikit ada kisah nyata yang sengaja disisipkan dalam cerita hehe. Cerita ini termasuk genre romance islami, yaa begitulah. Jadi jangan baper ya teman-teman. Ini adalah Bagian 1 dengan judul pertemuan, jadi dibagian ini, menceritakan tentang si tokoh-tokoh bakalan bertemu yang nantinya bakalan menjadi tokoh dalam cerita selanjutnya. Untuk Bagian 2 berisi tentang karakter tokoh-tokoh dalam cerita, gak seru kan kalo gak tau karakternya? Makanya bakalan dilanjutin di Bagian 2. 
Kenapa enggak dibuat di Wattpad? InsyaAllah bakalan posting di Wattpad juga kok, hanya saja masih berproses, ini juga ceritanya masih dalam drat. Teman-teman mohon doanya biar tulisan ini kelar ya, biar enggak kayak cerita-cerita sebelumnya (enggak kelar-kelar)hehehe.
Terimakasih yang sudah mau repot-repot baca ceritanya, sarannya sangat dibutuhkan loh, silahkan komen dibawah ini yaa. Insyallah Bagian 2 bakalan terbit dengan cepat :)
Wassalamualaikum

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simpan Fotomu! Fotomu Bukan untuk Konsumsi Publik!

Bismillahirrahmanirrahim Jadi beberapa hari yang lalu ada diskusi dengan bahasan menarik, Mengapa perempuan bercadar dan berkerudung lebar jaman now sangat sering upload foto di sosial media dan dibumbui caption dakwah? Mengapa lelaki jaman now juga sangat jago upload wajah di sosial media dengan dibumbui caption dakwah? Saya disini bukan untuk ngejudge siapapun, hanya ingin berbagi pandangan sebagai perempuan yang kadang suka risih sama upload foto dengan caption dakwah dan bermodus "ini adalah ladang dakwah." Jadi sebelum Saya nulis tulisan ini, Saya pernah ada diposisi si perempuan itu, iyaa pernah dan sering upload foto bahkan sering jadiin foto diri sendiri untuk dipasang di foto profil akun sosial media. Jadi disini, Saya juga coba menghakimi diri Saya di masa lalu, bukan hanya menghakimi mereka yang sekarang sering upload foto wajah di sosial media yaa. Ini kasus Saya, yang real Saya alami sendiri dan sekarang bikin sadar untuk tau lagi makna apa ya...