Langsung ke konten utama

Pinjam Namamu, Bolehkan?


Bismillah.
Tulisan kali ini mau ngebahas beberapa tentang jodoh, ehh iya tentang jodoh. Tolong jangan pada baper. Hati tolong dikondisikan yaa pemirsa, ini hanya sebagai bahan belajar kita aja. Dan enggak tertuju kemana pun, ke siapapun. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua yaaa. MasyaAllah.

Jadi suatu waktu saya berkenalan dengan seorang akhwat bercadar di tempat kajian. Selesai kajian kami bertukar pengalaman suka-duka ditentang pake cadar, dia berhasil pake cadar dengan nyaman dan saya belum. Kita bertukar cerita tentang pekerjaan mbaknya, bagi cerita tentang kuliah diteknik dan yaa banyak cerita lainnya wkwk. Jujur deh ya, ini baru kenal detik itu, saat itu juga, tapi obrolan kita udah kemana-mana. Udah kayak temen lama yang enggak pernah ketemu. Hingga ketemu lah suatu topic bahasan yang lumayan menarik. Yahh mbaknya bertanya begini:

"Mbak udah berkeluarga?"

Saya kaget sambil jawab, "belum mbak, doain aja ya segera hehe. Mbaknya udah ya?"

Dan benar. Alhamdulillah beliau sudah berkeluarga. Menikah sudah 4 bulan lahh. Dan beliau menceritakan semuanya prosesnya secara detail dan ini yang akan saya bagikan ditulisan kali ini

Beliau menikah di umur 22 tahun (beda setahun dari saya) dan beliau di taarufkan oleh guru ngajinya. Beliau itu kerja disuatu lembaga pengajaran yang di tempat kerjanya itu tak  ada interaksi antara ikhwan-akhwat. Dia minta ditaarufkan karena ia merasa udah siap menikah. Dan ternyata beliau itu ditaarufkan dengan partner kerjanya (sebenernya bukan partner sih) tapi yg kerja dibeda divisi. Tapi beliau baru tahu kalo suaminya kerja disana setelah menikah. Ini poin pertama yg harus digaris bawahi. Benar. Yang menjaga akan selalu disandingkan dengan yang terjaga

Poin kedua. Beliau menceritakan berapa maharnya waktu itu. Menurut beliau itu yaa lumayan, tapi kalo di estimasikan untuk tambahan biaya nikahh ya lumayan juga. Pokoknya gasampe 10jt (maaf gabisa sebut angka pastinya hehe). Tapi beliau bilang, "Alhamdulillah saya dapetnya segitu, mungkin menurut orang lain itu sangat dikit, tapi bermakna buat saya. Alhamdulillah itu rejekinya saya. Kan perempuan shalihah itu yg memudahkan maharnya."

Pikir saya waktu itu, jaman sekarang itu serba mahal tapi mbaknyaa masih mau nerima lapang dada untuk menikah dengan si pria (maafkan pemikiran sempit saya). Dan saya ilangin pikiran itu, pasti yg beliau pilih bukan main-main tapi yg bersungguh-sungguh berjuang. Bukan Cuma materi aja sih penilaiannya, ilmu agama yang sesuai kriteria mbaknya dari suaminya pasti jadi poin utamyanya. Yap, ilmu agama yang baik akan kalah sama harta yg berlimpah sekalipun :)
Poin ketiga. Beliau menikah dengan syari. MasyaAllah antara laki-laki dan perempuan terpisah. Ini hal yang paling sangat diinginkan siapapun yg sudah mengenal syariat. "Menikah dengan ridho Allah dengan menjalankan SyariatNya." Kata siapa mbaknya lancer-lancar aja, beliau juga hamper ditentang sih, tapi tetep diperjuangin tuh konsep beginian.
Beliau juga menikah tanpa adanya alunan musik sedikitpun. Wahh MasyaAllah. Indahnyaa
Mungkin bagi sedikit orang awam, itu hal yang aneh, tapi ayo coba kenalkan ke orang awam bahwa konsep seperti inilah yang diajarkan dalam Islam.

Poin keempat. Suaminya itu cemburuan banget (katanya wkwk). Kenapa? Karena waktu si mbaknya nyapu kebagian luar rumah dan cuma pake masker (mbaknya bercadar), beliau dimarahi dan harus pake cadar. Ada contoh lagi, ini kan kajian ditempat kajian kalo sore itu khusus akhwat sedangkan ynag malam untuk ikhwan-akhwat. Tapi karena panitia yang kajian akhwat kebanyak sudah menikah dan pasangan mereka pun satu kajian ditempat ini, panitia ikhwan pun keluyuran untuk setiing sound atau tempat. Yaa walaupun enggak semua ikhwan panitianya sudah menikah sih. Nahh ini, karena ada panitia ikhwan yang belum nikah, si suami mbaknya jadi cemburu, takut si mbaknya diliat wkwk.
Suaminya gamau si mbaknya diliat orang lain kecuali diliat mahramnya. Wah MasyaAllah kan yaaa :"

Ini cuma ada 4 poin dari semua percakapan yg ada wkwk. Disini saya bukan mau baper-baperin orang atau kode-kodein orang lain karena pernikahan impian mbaknya. Apalagi kalo ada yg bilang saya ini buru-buru pengen nikah. Duhh saya ini termasuk tipe orang yg sedang tak suka pernikahan hehe, tapi suka seneng kalo ngomongin jodoh (siapa yg tanya cobaa wkwk).

Yang mau saya bagikan jadi pelajaran, itu 4 poin diatas yang emang paling harus kudu wajib kita punya. Karena menikah itu bukan sehari-dua hari, tapi selamanyaa untuk sehidup-sesurga. Pasti sangat ingin sekali kan buat rumah tangga disurga, wah MasyaAllah. Mempersiapkan pernikaha itu memang sulit. Sulit karena harus melaksanakan pernikahan yang sesuai Syariat. Memilih pasangan hidup pun lebih sulit. Bagi perempuan kita harus pilih si Nahkoda yang paling handal dalam segala bidang supaya bias berlayar dan menepi ke SurgaNya. Kalo bagi lelaki, memilih pasangan itu pun harus pilih yang mau diajak berlayar dalam kebaikan, dan carilah perempuan yang memiliki ilmu agama yang tepat agar cocok jadi sekolah pertama untuk anaknya. Dan ketika sudah mendapatkan yang sekufu dengan kita, pasti nyaman dan mudah untuk menuju surgaNya. Jodoh itu semua nya pasti dapet, cuma tergantung kitanya. Mau dijemput dengan cara yang bener apa yg salah. Inget, cari berkahnya yaa

Kadang kita suka khilaf berharap 'dia' jadi punya kita. Padahal mah belum tentu dia nya mau wkwk. Sok-sok nge-booking lah apalagi sok-sok kasih janji bakalan ngelamar. Sok-sokan nanya udah siap belum, padahal mah ilmunya belum ada hehe. Mending doain aja, pinjem namanya, minta disepertiga malam. Dah enggak usah bilang, kalo kita lagi pinjem nama dia. Mending terus-terusan doa, jor-jorin tuh doa, biar semakin deket tuh sama si jodoh hehe. Pinjem namanya biar dijagain sama Allah. Jangan kita yg repot-repot jagain. Belum tentu juga dia jodoh kita, takutnya malah kita ngejagain jodoh orang lohh wkwk. Selalu persiapkan ilmu agama yang cukup untuk mendidik generasi yang Islami gaiss

Sekian tulisan yang insyaAllah jadi pelajaran bagi kita, khususnya saya yang secara enggak langsung dinasehatin sama mbaknya. Semoga kalian yang baca ini enggak pada senyum-senyum sendiri yaa hehe J
Semoga kalian yang sedang mempersiapkan selalu dimudahkan. Yang sedang proses menuju pernikahan diberi kelancaran. Dan yang sedang mencari semoga dipertemukan. Dan teruntuk yang sedang males menikah (seperti saya), padahal menikah itu ibadah dan termasuk sunnah Rasul, semoga diberi hidayah, karena itu menyempurnakan separuh agama♡♡
Dan bagi yang sudah siap secara materi serta ilmu agama, ayo disegerakan dan jangan lupa undang saya di walimahan kalian yaa.

Barakallah fiikum
Jazaakumullah khair

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian 1 : Pertemuan

Bagian-1 Siang ini, aku sengaja mendatangi tempat makan yang tak jauh dari kantorku. Hari ini aku malas untuk makan ditempat biasa, tempat yang sangat jauh dari kantor. Jadi ku pilih tempat yang jaraknya hanya 10 meter dari kantorku. Seperti biasa, selalu kubawa barang unik milikku, sebut saja laptop. Mengapa unik? karena dia selalu bersamaku setiap saat. Mungkin terlihat seperti laptop kebanyakan, hanya saja ini laptop punya sejuta cerita didalamnya. Semua kisah cerita hidup kutulis disini, setiap memori keadaan selalu kuabadikan dalam foto dan kusimpan didalamnya. Bukankah unik? Tak ada yang isimewa siang ini, seperti biasa hanya makan disambi untuk mengerjakan sebagian pekerjaan kantor yang menurutku agak sedikit membosankan. Tiba-tiba kulihat sekumpulan mahasiswi (sepertinya) sedang makan bersama dibagian ujung ruangan ini. Sekilas mereka sama seperti pengunjung lain, hanya untuk makan dan sedikit berbagi cerita dengan teman lainnya. Disini tmapt makan yang lumayan luas, m...

Simpan Fotomu! Fotomu Bukan untuk Konsumsi Publik!

Bismillahirrahmanirrahim Jadi beberapa hari yang lalu ada diskusi dengan bahasan menarik, Mengapa perempuan bercadar dan berkerudung lebar jaman now sangat sering upload foto di sosial media dan dibumbui caption dakwah? Mengapa lelaki jaman now juga sangat jago upload wajah di sosial media dengan dibumbui caption dakwah? Saya disini bukan untuk ngejudge siapapun, hanya ingin berbagi pandangan sebagai perempuan yang kadang suka risih sama upload foto dengan caption dakwah dan bermodus "ini adalah ladang dakwah." Jadi sebelum Saya nulis tulisan ini, Saya pernah ada diposisi si perempuan itu, iyaa pernah dan sering upload foto bahkan sering jadiin foto diri sendiri untuk dipasang di foto profil akun sosial media. Jadi disini, Saya juga coba menghakimi diri Saya di masa lalu, bukan hanya menghakimi mereka yang sekarang sering upload foto wajah di sosial media yaa. Ini kasus Saya, yang real Saya alami sendiri dan sekarang bikin sadar untuk tau lagi makna apa ya...